press release

Dalam epos Ramayana, dikisahkan kesedihan Rama karena diculiknya Sinta oleh Dasamuka serta matinya beribu-ribu pasukan kera dalam peperangan melawan pasukan Dasamuka. Melalui samadhinya, dan dibantu oleh Hanoman, ditemukan kembang Dewa-ndaru yang bisa ,menghidupkan seluruh pasukan kera yang mati.

Dalam terminologi Jawa, Dewa-ndaru juga memiliki arti positif. Orang Jawa mengatakan “ketiban ndaru”, terhadap seseorang yang mendapat rejeki tiba-tiba. Ndaru dalam ungkapan ini mengandung arti anugrah, berkah dan kebahagiaan. Orang Tionghoa menyebut Dewa-ndaru dengan nama “Sian-Dho” yang diyakini memiliki keistimewaan dan khasiat tertentu. Sian-dho adalah tanaman kesayangan para raja-raja.

Kandungan arti yang positif itu, menginspirasi pemilik untuk mendirikan resto dengan nama “Dewandaru”. Jadi, Dewa-ndaru bukan menunjukkan nama tempat melainkan lebih merujuk pada sebuah filosofi tentang arti kehidupan dan kebahagiaan.

Karena itu Dewa-ndaru bukan semata-mata sebuah resto. Ia lebih dekat dengan lambang-lambang dan nilai-nilai dari adiluhungnya sebuah peradaban dan kebudayaan.

Memasuki Dewa-ndaru resto di bilangan Mayjen Sungkono 17-19, kita akan dihadapkan pada indahnya karya seni bernilai tinggi dari dua budaya adiluhung yaitu budaya Jawa dan China.

Di pelataran depan, kita langsung disambut oleh sepasang patung Nandi, (sapi suci India). Setelah melewati joglo diatas air, dua patung dewa dewi memberi berkah pada setiap tamu. Masing masing memegang kembang Dewa-ndaru dan kendi yang berisi air, lambang kehidupan. Suasana dengan aura budaya Jawa yang sangat kental terasa ketika kita memasuki pendopo agung yang penuh dengan kreasi dan koleksi barang-barang seni .

Di sentral area resto ini, emosi kita akan hanyut oleh sajian traditional life music dalam suasana   alam  terbuka yang sangat alami. Jiwa kita serasa menyatu dengan air, tetumbuhan dan bebatuan sebagai tempat duduk yang terasa sangat pas dalam menemani kita menikmati sajian khas resto ini.

Puncak nuansa resto ini adalah sebuah bangunan khas, rumah Tionghoa di abad 18. Sebuah peninggalan budaya yang sangat unik dan megah. Di mana akan diakhiri dengan sebuah taman terbuka di ruang belakang yang juga sangat terasa eksklusif dan romantis.

Diantara kenyamanan, suasana romantis dan penuh nostalgia, resto ini menyajikan makanan yang amat berbeda. Menu ala Tionghoa peranakan yang disebut “Babah nyonya”, menjadi sajian istimewa di resto ini.

Dewa-ndaru culture resto adalah simbol kemegahan dan refleksi keindahan bersatunya dua budaya serta sebuah keunikan peradaban nusantara di masa silam tujuan kami bukan semata-mata profit, tegas sang owner Dewa-ndaru. Kami membawa misi, agar bangsa ini bisa lebih menghargai dan bangga serta cinta akan budaya sendiri.

DEWA-NDARU CULTURE RESTO
Jl Mayjen Sungkono 17-19
Surabaya – Indonesia
Telp 62 – 31 – 5651888, 5651999
Fax 62 – 31 – 7440456